Menaker: Ketimpangan Sosial Masih Tantangan Indonesia

926562-Menaker Ketimpangan Sosial Masih Tantangan Indonesia

Karawang – Menteri Ketenagakerjaan, Muhammad Hanif Dakhiri menandatangani deklarasi pemagangan nasional menuju Indonesia kompeten dengan Ketua Asosiasi Pengusaha Infonesia (Apindo) Bambang Haryadi Sukamdani dan Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P Roeslani di Kawasan Industri Internasional Karawang (KIIC) di Karawang, Jawa Barat, Jumat (23/12).

Penandatanganan tersebut disaksikan oleh Presiden Joko Widodo, Mensesneg Pramono Anung, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar dan Bupati Karawang Dedi Mulyadi.

Hanif dalam sambutannya mengatakan, kemiskinan, ketimpangan sosial dan pengangguran merupakan tantangan besar bagi bangsa Indonesia. Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo ketiga tantangan tersebut berada pada statistik menurun. Namun ketiga hal tersebut masih menjadi tantangan bersama yang harus diselesaikan oleh pemerintah, dunia usaha dan masyarakat sipil secara keseluruhan.

Menurut Hanif, kontributor terbesar dari masalah kemiskinan, ketimpangan sosial dan pengangguran adalah faktor ketenagakerjaan. Setidaknya yang terkait kesenjangan ketrampilan atau kesenjangan kompetensi. Kesenjangan kompetensi melahirkan kesenjangan pekerjaan, kesenjangan pekerjaan melahirkan kesenjangan pendapatan. Kesenjangan pendapatan melahirkan kesenjangan sosial, ” kata Hanif.

Oleh karena itu, kata dia, dibutuhkan terobosan untuk memastikan agar kemampuan orang/angkatan kerja dalam mengakses pasar kerja lebih kuat melalui percepatan peningkatan kompetensi dengan mengembangkan dan menggenjot pendidikan serta pelatikan vokasi.

Hanif menambahkan, pemagangan nasional merupakan salah satu bagian dari sistem pelatihan nasional agar mampu mempercepat kemampuan atau kompetensi angkatan kerja sehingga 60 persen angkatan kerja lulusan SD/SMP memperoleh self defence capacity (alat pertahanan diri) untuk bisa masuk ke pasar kerja.

Hanif menegaskan, pemagangan nasional berbeda dengan pemagangan sebelumnya yang identik dengan membuat kopi atau foto copy. “Pemagangan saat ini terstruktur, sistematis, terpadu berbasis jabatan. Orang magang dengan jabatan dan insentif yang jelas dan akhir pemagangan ditutup dengan uji kompetensi yang menghasilan sertifikasi profesi, ” ujar Hanif seraya bergarap pemagangan nasional ini mampu menggenjot percepatan peningkatan kompetensi angkatan kerja.

Hanif mengungkapkan, hingga saat ini sebanyak 2.648 perusahaan berkomitmen akan menyelenggarakan pemagangan dengan 163.848 peserta pemagangan, terdiri dari enam sektor di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Rinciannya adalah sektor manufaktur 1.776 perusahaan, teknologi informasi dan komunikasi (30), perbankan (12), ritel sebanyak (219), pariwisata (200) dan 411 perusahaan di sektor kelautan dan perikanan.

 


Beritahu teman


Berita lainnya

Apa komentarmu?

Email kamu tidak akan kami publikasikan.


*