Pakde Karwo : Koperasi dan UMKM Jadi Andalan Jatim Hadapi MEA


Sektor Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi andalan perekonomian Jawa Timur dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Karena, selain berkontribusi besar bagi PDRB Jatim, sektor tersebut terbukti mampu bertahan dan terus tumbuh meski situasi ekonomi global sedang lesu.

Hal itu disampaikan Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim Soekarwo, dalam Seminar Nasional bertema “Merekonstruksi Arah Pembangunan Naisonal Menuju Daya Saing Bangsa di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), di Sekolah Pascasarjana Unair Kampus C Surabaya, Rabu (14/12/2016).`

Pakde Karwo mengatakan, koperasi dan UMKM adalah sektor utama yang harus dipihak oleh negara dalam rangka merekonstruksi arah pembangunan nasional, khususnya dalam membangun perekonomian.

Sektor itu telah memberikan pelajaran hebat bagi bangsa ini dalam mengarungi situasi ekonomi yang tak menentu.

Pada tahun 1998, saat Indonesia mengalami krisis ekonomi, sektor tersebut menjadi penyangga ekonomi dan tahan terhadap resesi. Seiring berjalannya waktu, koperasi dan UMKM makin tumbuh subur dan menjadi kekuatan ekonomi yang berkontribusi besar bagi bangsa ini.

Di Jatim, koperasi dan UMKM tumbuh dengan pesat. Pada 2008, terdapat 4,2 juta UMKM di Jatim. Pada 2015, jumlah UMKM tumbuh menjadi 6,8 juta dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim yang tinggi, yakni 54,98% dari total PDRB Jatim Rp 1.689,88 triliun, dan menyerap 11,12 juta tenaga kerja atau 92% dari seluruh tenaga kerja di Jatim.

Apiknya perkembangan UMKM berdampak positif pula pada kinerja perekonomian Jatim. Meski situasi ekonomi global sedang lesu, kinerja perekonomian Jatim tetap meningkat. Pada Triwulan I, kinerja perekonomian Jatim tumbuh 5,34 persen (yoy), berada di atas nasional yang mencapai 4,9 persen (yoy).
Sedangkan pada Triwulan II, perekonomian Jatim makin unggul, tumbuh 5,5 persen (yoy), mengungguli perekonomian nasional yang berada pada angka 5,18 persen (yoy).

Pada triwulan III 2016, PDRB Jatim tercatat Rp 1.382 triliun, dengan pertumbuhan ekonomi atau growth 5,57 %. Sementara PDB nasional pada triwulan III 2016 mencapai Rp 9.245.40 trilliun dengan pertumbuhan ekonomi hanya 5.04 %.

Masih menurut Pakde, meski tumbuh pesat dan mampu bertahan di situasi ekonomi yang lesu, namun sektor UMKM masih mengalami kesulitan untuk mengakses modal di perbankan. Selain itu, suku bunga yang dikenakan kepada sektor ini juga sangat besar dan tidak adil.

Perbankan hanya memberikan bunga kredit sebesar 14% setahun kepada perusahaan besar (corporate), namun jika rakyat kecil seperti petani dan UMKM yang meminjam modal justru dibebankan bunga sangat besar, yakni 20% setahun. Alasannya karena risiko (high risk).

Kata Pakde, ini sungguh tak masuk akal, Bank milik negara yang mengatasnamakan “Bank Rakyat” tapi justru rakyat kecil dibebankan bunga yang jauh lebih besar daripada korporasi.

“Jika alasannya risiko, kan ada asuransi. Karena itu, negara harus hadir untuk membela yang lemah,” katanya.

Karena itu, Pemprov Jatim mendorong adanya sistem perbankan yang dapat mendukung terwujudnya suku bunga murah dan mendukung perluasan pembiayaan yang dapat mengurangi dampak krisis ekonomi global.
Model pembiayaan ini salah satunya melalui model loan agreement sebagai skema pembiayaan kredit murah bagi rakyat kecil melalui perbankan. Bank Jatim sebagai APEX Bank bagi BPR-BPR milik Pemerintah Kabupaten/Kota di Jatim memberikan kredit linkage program dengan bunga ringan.

Program ini sudah diinisiasi oleh Pemprov Jatim pada 2016 dan merupakan yang pertama kali di Indonesia.
Pada program ini, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) mendapat pinjaman dana Rp 400 miliar yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jatim tahun 2016.

Dana pinjaman ini nantinya akan disalurkan berupa kredit lunak dengan plafon sebesar Rp 20 juta dengan suku bunga maksimal 9% efektif dalam jangka waktu 2 tahun.

Selanjutnya, BPR diperkenankan menyalurkan dana kepada rakyat atau UMKM dengan bunga mulai dari 7-9% per tahun. Suku bunga ini jauh lebih kecil daripada suku bunga sektor UMKM pada umumnya yang di atas 20% per tahun

Agar kreditur bisa yakin, berani, dan nyaman dalam mengangsur pinjaman, BPR dapat menggandeng pihak asuransi sebagai penjamin seperti Jamkrida atau Jasindo. Adapun biaya untuk asuransi itu sudah termasuk dalam bunga 7-9% yang dikenakan BPR kepada kreditur. Inilah yang dinamakan bridging risk.

SMK Mini-BLK Plus
Pakde Karwo melanjutkan, pihaknya terus berupaya agar UMKM dan Koperasi tumbuh lebih subur. Yakni dengan mengembangkan SMK Mini atau BLK Plus untuk menghasilkan tenaga kerja siap pakai dan berkualitas.

Pemprov Jatim telah bekerjasama dengan Jerman dan AS sebagai bentuk perluasan kerjasama pendidikan vokasional.

“Pengembangan kualitas SDM menjadi penting dalam menyongsong MEA. Kini telah berdiri 270 SMK Mini dengan 9 bidang keahlian seperti teknologi dan rekayasa, teknologi informatika dan komunikasi, kesehatan. Targetnya, akan dibangun 400 SMK Mini. Saat ini sebagian lulusan SMK Mini ingin menjadi entrepreneur,” katanya.

Pakde juga terus memperkuat pasar dalam dan luar negeri untuk memperluas penetrasi pasar produk UMKM.

Pakde Karwo pun mendorong Sekretaris Daerah agar terus berperan aktif menjalin kerjasama perdagangan dengan provinsi dan negara tetangga.

“Peran sekda adalah membangun sister province dalam negeri dan memperkuat basis logistik di semua provinsi. Misalnya, Jatim membutuhkan pala, merica, dan cengkeh ke Maluku Utara. Kemudian Maluku Utara membutuhkan bawang merah dan ayam beku” katanya.

Kata Pakde, Jatim mengalami surplus perdagangan ekspor-impor Rp 56.087 triliun pada triwulan III 2016.
Rinciannya, net ekspor-impor luar negeri minus (-) Rp 23,159 triliun, dan net ekspor impor dalam negeri surplus (+) Rp 79,246 triliun.

“Meskipun Jatim minus perdagangan luar negeri, tapi kita surplus perdagangan dalam negeri. Sehingga secara keseluruhan kita tetap surplus. Inilah nasionalisme baru di era modern. Ini karena sekda kami aktif promosi dan menjalin kerjasama dengan KADIN Jatim dan provinsi lain. Kami juga membangun kantor perwakilan perdagangan di 26 provinsi di Indonesia. Captive market harus kita kuasai sendiri, jangan sampai dikuasai asing” kata Pakde disambut tepuk tangan hadirin.

Hadir pula dalam seminar tersebut, Bupati Gresik Dr Ir H Sambari Halim Radianto, Bupati Lamongan H Fadeli SH MM, yang keduanya sepakat dan mendukung program Pakde Karwo tersebut.

Bupati Sambari mengatakan, keberadaan SMK Mini sangat dibutuhkan untuk menyiapkan tenaga kerja siap pakai.

“Kami menambah 4 SMK agar yang ada di pedesaan tak perlu jauh-jauh ke kota. Maka semua SMK dan SMA kami bangun di daerah pinggiran agar semuanya merata. Kami juga menganggarkan 37% APBD kami untuk pendidikan” katanya.

Bupati Lamongan Fadeli juga mendukung Pakde Karwo. Ia mengatakan, pihaknya telah membangun BLK dengan target melakukan pelatihan berbasis kemasyarakatan guna menciptakan tenaga kerja yang terampil dan berdaya saing. Saat ini di Lamongan sudah ada delapan jurusan di BLK.

“Kunci menekan angka pengangguran adalah SDM yang berkualitas, karena itu kami buka lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Saya wajibkan investor dan pengusaha yang masuk ke Lamongan untuk mengambil tenaga kerja lokal. Agar tidak disusupi tenaga kerja asing yang belum tentu berkualitas,” katanya..

“Kami juga mengembangkan SMK yang berbasis potensi daerah dan bekerjasama dengan industri-industri di Lamongan. Kami bangun SMK yang berbasis Sumber Daya Alam Lamongan, ada perkapalan, kelautan, dan sebagainya,” katanya..

Direktur Pascasarjana Unait Prof Dr Hj Sri Iswati mengatakan, pemegang kontribusi terhadap bangsa ada tiga, yakni Akademisi, Bisnis, dan Government (pemerintah). Karena itu, tujuan seminar ini adalah seluruh pihak tersebut dapat saling berbagi informasi dan kiat-kiat menjadi pemenang di era MEA.

“Di manapun kita berada, kita akan selalu menghadapi persaingan. Bahkan sejak kita lahir pun persaingan sudah ada. Jadi.persaingan itu natural law. Artinya, kita tak perlu takut menghadapi persaingan MEA, kita harus optimis bisa menjadi pemenang, karena kita dilahirkan sudah sebagai pemenang” katanya.  (fai)


Beritahu teman


Berita lainnya
  1. Komentar dari monica | 24 Juni 2017 jam 01:34 | Balas

    Kita butuh ikon besakih untuk membuka unggas

Apa komentarmu?

Email kamu tidak akan kami publikasikan.


*