Cerita Bersambung HAI: Menembus Langit Ep 17


Sambungan dari Part 16

17
 SIMPATI ISTRI BUPATI

Ada kalanya manusia menemukan momen tak menyenangkan. Namun, ada pula saat-saat berjumpa dengan hal-hal yang membahagiakan. Untuk yang pertama, biasanya aku kerap menjadikan itu sebagai pengalaman berharga agar mentalku lebih kuat lagi, sambil belajar menahan emosi. Sementara yang kedua, itu merupakan anugerah yang wajib untuk disyukuri.

Bagiku, salah satu hal yang sangat menyenangkan adalah berjumpa dengan anak pramuka. Bagi seorang pandu, bertemu sesama anak pramuka memang peristiwa penting. Sebuah momen yang bisa sangat menghibur. Aku selalu menyempatkan untuk mampir ke banyak gugus depan kepramukaan selama perjalanan melintasi jalur Sumatera. Bersua dengan sesama anak pramuka merupakan perjumpaan yang tak bisa ditukar oleh mata uang sekalipun. Mereka adalah insan-insan penyejuk hati yang mampu menghilangkan rasa dahaga. Bukan dahaga akan air minum, melainkan dahaga hati yang dilingkupi kesepian.  

Sahabat-sahabatku itu sering menjelma menjadi media penyemangatku. Mereka mampu menghilangkan rasa penat dan capai. Betapa tidak, mereka pasti menawarkan dan memberiku tempat menginap. Tak hanya itu, mereka menjamuku bak tamu istimewa. Sederhana memang. Namun, bagiku, itu adalah bentuk perhatian luar biasa. Bahkan, aku mesti menambahkan kata sangat. Ya, jamuannya sangat luar biasa.

Terkadang, aku merasa sungkan kepada para pembina pramuka yang biasanya juga kepala sekolah. Merekalah sosok yang sering aku temui di gugus depan di berbagai daerah. Makanya, sebagai balas jasa, aku sering memberikan sesuatu dalam bentuk nonfinansial. Aku mengusulkan gagasan-gagasan yang bisa membantu pengembangan kepramukaan setempat. Para anggota pramuka pun merasa senang karena mendapatkan ilmu-ilmu baru dari setiap pesan yang aku sampaikan.

Selain itu, aku juga menceritakan pengalamanku sejak memulai perjalanan dari Serang hingga menjelajah Sumatera. Tentu saja tak kukisahkan kepada mereka pengalaman-pengalaman yang pahit dan penuh duka. Aku lebih fokus pada hal-hal positif dan spirit yang bisa menggugah semangat jiwa mereka. Biarlah kisah-kisah duka tingga di memoriku saja.

***

https://1.bp.blogspot.com/-3Sz4M7L4RC8/WHXvC3Xnr-I/AAAAAAAADKU/FPA-YhMGERQEQUUI7NsNZZGqaf2X87CrwCLcB/s1600/CERBUNG%2BMENEMBUS%2BLANGIT%2B-%2BCHAPTER%2B%2B17%2BSIMPATI%2BISTRI%2BBUPATI%2B2.jpg

Siang berganti malam, malam berganti siang. Mentari berganti bintang-bintang, bintang-bintang pun bersilih mentari. Tak terasa, Pelabuhan Siak ada di hadapanku. Ini adalah dermaga penyeberangan kedua yang kusinggahi. Kalau Pelabuhan Merak menjadi jalur penyeberangan antarpulau, masih di dalam negeri sendiri. Sementara itu, dermaga yang berada di Riau ini selain merupakan pelabuhan penyeberangan pulau-pulau yang tersebar di Kepulauan Riau, juga sekaligus jalur ke arah Singapura. Ada banyak kapal yang berlalu lalang. Selain kapal angkut penumpang, tak sedikit pula kapal barang yang sedang bersandar. Kalau harga barang-barang sedang naik, seringnya tidak banyak buruh bongkar muat yang bekerja. Sebagian besar dari mereka lebih memilih alih profesi menjadi buruh bangunan, bertani, nelayan, dan tukang ojek. Tapi, itu sementara saja. Saat harga barang stabil lagi, mereka akan kembali menjadi buruh bongkar muat. Adapun alur pelayaran yang didominasi oleh kapal-kapal angkutan domestik antarpulau cukup padat. Jalurnya sempit sehingga rawan kecelakaan.

Hari ini aku urung melanjutkan perjalanan ke negeri jiran. Aku belum puas menikmati udara segar di negeri sendiri. Mumpung belum masuk ke negeri orang, aku pun menyusuri Sungai Siak dengan perlahan.

Saat menggowes sepeda, terbersit niatku untuk mengunjungi bupati. Sepertinya penting sekali untuk menemui orang nomor satu di Kabupaten Siak ini. Kalaupun tidak, minimal bisa bertemu dengan aparat pemerintahan setempat lainnya yang mewakili. Bukan, aku datang bukan untuk mencari dana atau belas kasihan. Jauh-jauh dari Banten, aku hanya ingin memberikan kesan dan menyampaikan pesan soal misiku keliling dunia. Dan yang paling utama adalah silataruhim seperti yang sering aku lakukan terhadap teman-teman pramuka.

Aku bertanya-tanya kepada setiap orang yang kujumpai di sepanjang jalan. Semua yang aku temui sangat ramah dan memberi respons baik. Cukup membantu untuk sekadar mencari tahu alamat sang bupati. Tidak begitu sulit, sampai pada akhirnya aku menemukan dan singgah ke rumah dinas pejabat tertinggi di Siak Sri Indrapura. Sekali lagi, aku tak bermaksud meminta dana perjalanan. Murni, tulus aku hanya berharap dukungan spirit untuk melanjutkan perjalananku ke Singapura dan negara-negara berikutnya.

Begitu tiba di rumah dinas bupati, aku bertemu seorang pria berkacamata hitam. Tubuhnya tidak terlalu besar, tapi gagah. Dia berpakaian safari dan berdiri tegap seolah tak pernah lelah. Entah ajudannya atau memang orang bawahan bupati yang hanya ditugaskan untuk berjaga di rumah bercat putih itu.

"Selamat siang!" Aku menyapa terlebih dahulu kepada pria yang kebetulan sedang berdiri di depan pagar itu.

 "Ya, ada yang bisa dibantu?" tanya sang pria sembari mengamatiku lekat-lekat. Kucium kecurigaan dari tatapannya itu.

"Maaf, apakah betul ini rumah bupati?" Aku ingin meyakinkan.

"Betul sekali," jawabnya singkat. "Ada perlu apa?"

Kata-kata pria berkumis tipis itu membuatku tak nyaman. Dari gerak-geriknya, jelas dia tak sudi menerimaku. Aku ini bukan pencari sumbangan yang ingin memberikan dan mengajukan sebuah proposal. Aku hanya seorang anak pramuka yang ingin menunjukkan jati diri saja kepada yang terhormat pak bupati.

"Maaf, saya ingin sekali bertemu dengan pak bupati." Aku memohon kepadanya seraya sedikit membungkuk.

"Oh, bapak sedang sibuk, lagi ada acara," tukas dia tanpa basa-basi. Sungguh jawaban yang mengesalkan bagiku. Aku menengok ke dalam areal rumah. Sepertinya yang aku lihat itu tak salah. Ya, persis, mobil dinas sang bupati terparkir di luar rumahnya. Aku yakin dengan cara melihat nomor plat mobilnya. Seharusnya dia masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, menanyakan kepada tuannya, baru kemudian memberikan jawaban kepadaku. Hal itu sama sekali tidak dilakukan oleh pria yang ingin menunjukan pengabdianya kepada tuan bupati.

"Saya dari Serang, Banten. Ingin berkeliling dunia dan mohon kiranya bisa bertemu dengan Pak Bupati," jelasku.

"Oh.., tapi bapak tak bisa menemui Anda," jawabnya, tetap dengan ketus. Hatiku berbisik, "Bagaimana mungkin? Bupatinya saja belum ditanya apakah mau bertemu denganku atau tidak." Pria ini mungkin merasa membuang-buang waktu untuk mengonfirmasi kepada tuannya. Atau memang dari tampilanku tak ada yang spesial sehingga sang bupati merasa tak layak untuk bertemu denganku.

Inikah sambutan yang memang seharusnya aku terima? Apakah tak cukup sebuah misi yang aku emban ini sebagai media penghubung untuk bisa bertemu bupati? Percakapan yang kurang menggembirakan. Jauh dari sesuai harapan. Tapi, aku hanya bisa memakluminya. Ya, bisa jadi sang bupati memang benar memiliki acara yang sangat padat. Biasanya begitu. Di mana pun, para pejabat selalu sibuk menghadiri acara ini-itu. Dia harus mengikuti agenda kerja yang mesti diemban dan menyelesaikan urusan pribadi serta keluarga. Atau bisa jadi juga faktor lain karena aku tak dikenal. Makanya sistem birokrasi yang berlaku di jajaran pemerintahan harus dijalankan.

Ah, aku tak mau memperpanjang masalah. Sia-sia saja berdebat dengannya karena toh tak akan bisa bertemu juga. Lagi pula ini inisiatifku sendiri untuk bertemu bupati. Tak ada yang merekomendasi,  apalagi aku datang secara mendadak. Door stop. Tak ada janji pertemuan jauh hari sebelumnya.

Atas segala kesadaran yang ada, aku langsung pamit untuk meninggalkan rumah dinas bupati. Dan, bersamaan dengan itu pula ada wanita setengah baya yang baru datang. Nampaknya ia juga hendak masuk ke rumah bupati. Si pria menyebalkan itu menyampaikan apa yang telah terjadi sebelumnya kepada si ibu. Di luar dugaan, ternyata beliau adalah istri sang bupati. Lebih mengejutkan lagi, wanita itu memberikan apresiasi yang berbeda. Tapi, aku terlanjur ingin meneruskan perjalanan. Setang sepeda sudah aku genggam, tinggal mendorong dan menaiki saja kemudian menggowesnya.

"Saya mau pamit, Bu..!" hormatku kepada istri bupati.

"Tunggu dulu," kata beliau menahanku pergi. Tentu saja aku tak tega. Aku segera menahan sepedaku dan menyampaikan apa yang kuinginkan. Istri bupati meminta maaf atas sikap yang kurang berkenan dari sikap ajudannya.

"Mau ke mana?" tanya si ibu yang terlihat begitu khawatir.

"Belum tahu. Saya berencana  ke Singapura, tapi masih ingin menikmati dan berkeliling Siak terlebih dahulu," terangku.

"Saya salut dengan Anda. Wahai pengeliling dunia, bagaimana kalau malam ini Anda menginap di hotel terdekat saja. Istirahat dulu dan besok bisa melanjutkan perjalanan," tawarnya agar aku bisa agak lebih lama dulu di Siak.

"Oh, terima kasih, Bu. Biar saya sendiri saja yang akan mencari penginapan," jawabku penuh hormat. Dari gaya bicaranya, ibu ini terlihat baik sekali.

"Saya yang akan membayarkan biaya penginapannya," jelas istri bupati memberikan tawaran yang membuat hatiku senang. Apalagi beliau meminta sang ajudan untuk mengantarkanku hingga di hotel yang dimaksud. Aku berusaha menolak. Kali ini ajudan tadi bersikap berbeda. Mungkin karena di depan istri bupati. Ia malah meminta maaf dan memohon agar sikap yang telah dilakukannya itu agar dimaklumi dan dilupakan. Si ajudan merayu agar aku mau menginap di hotel.

Aku tak kuasa untuk menolaknya. Aku pun menerima tawaran istri bupati untuk menginap di hotel. Simpati dari seorang istri bupati membuatku tak enak hati. Beliau paham sekali posisi suaminya sebagai pejabat publik. Dan, seorang istri mesti menjaga kewibawaan suaminya di mata rakyatnya. Menjaga citra di hadapan masyarakat agar karisma tetap tejaga.

"Terima kasih… Ibu baik sekali," kataku kepada ibu itu. Baru kali ini aku bertemu seorang istri bupati yang baik hati kepadaku.

"Tak masalah," jawab perempuan setengah baya itu seraya langsung meminta ajudan untuk mengawalku hingga ke penginapan.

***

Tak terasa, hari esok tiba juga. Inilah detik-detik aku mesti melanjutkan perjalanan untuk meninggalkan Indonesia tercinta. Aku akan melangkah ke negeri tetangga. Petualangan yang sesungguhnya baru akan kulakukan. Waktu sudah dalam ambang batas, aku mencari tiket perahu bermotor yang akan membawaku ke negeri seberang. Angkutan laut bermesin tempel yang dikenal dengan sebutan pompong di Pelabuhan Sungai Siak menemaniku ke Pulau Bintan dan Batam. (*)

Oleh: Edi Dimyati


Beritahu teman


Berita lainnya

Apa komentarmu?

Email kamu tidak akan kami publikasikan.


*