Pemerintah Targetkan Capai Swasembada Jagung di 2018 – Produksi Pertanian

No Picture

NERACA

Jakarta – Menteri Pertanian Amran Sulaiman menargetkan, paling lambat pada 2018 Indonesia sudah mampu mencapai swasembada jagung. Menurut Menteri Pertanian, sekian puluh tahun, Indonesia telah impor dari Argentina, Belgia, dan Amerika. Itu sebabnya, pada 2017 impor dari negara tersebut turun 66 persen.

Hal itu dikatakannya saat meninjau pertanaman jagung hibrida di Desa Punaga, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, sebagaimana disalin dari laman Antara. Dalam kunjungan tersebut turut hadir Wakapolri Komjen Pol Syafruddin, Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang, Kapolda Sulsel Brigjen Pol Muktiono, dan Pangdam VII/Wirabuana Mayjen Agus Surya Bakti.

Sementara itu, Syafruddin menegaskan salah satu tugas Polri adalah memberantas kartel pangan, karena merupakan salah satu penyebab meningkatnya impor pangan ke Indonesia. “Tugas Polri adalah menindak kartel. Karena salah satu indikator yang selama ini menghambat ataupun yang menahan swasembada itu adalah kartel. Untuk itu, tugas Polri adalah menghabisi kartel,” katanya sembari menambahkan saat ini ada sekitar 40 kasus kartel yang sedang ditangani Bareskrim Polri.

Syafruddin menjelaskan, sekarang ini kebutuhan pangan sangat diperlukan dalam kondisi stabil sampai waktu mendatang sehingga negara juga bisa stabil. “Jadi, satu-satunya yang bisa menstabilkan negara ini dan bisa berdiri tegak adalah terpenuhinya kebutuhan pangan. Oleh karena itu, aparat keamanan yaitu TNI dan Polri fokus ke situ,” katanya.

Oleh karena itu, untuk mendukung program pemerintah mencapai swasembada pangan, pihaknya kini sedang melakukan kerja sama dengan para petani dan Kementerian Pertanian guna mengawal peningkatan produksi jagung.

“TNI sudah terjun ke persawahan di padi dan beras, kemudian Polri menyusul bersama-sama bergandengan tangan dengan para petani untuk mendukung itu semua. Masalah keamanan dijamin. Ini Kapolda, saya perintahkan untuk memperhatikan ini,” ujar jenderal bintang tiga itu.

Terkait dengan itu, Amran mengakui tanpa dukungan kepolisian rasanya sulit untuk swasembada, hal itu terbukti dalam kasus pupuk, Polri telah memproses 40 kasus hingga masuk penjara.

Selain meninjau areal pertanaman jagung seluas 1.500 ha, Mentan bersama Wakapolri serta Wakil Gubernur Sulsel meninjau lokasi perkebunan tebu Pabrik Gula Takalar di Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar yang dikelola PT Perkebunan Nusantara.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan selama 2017 tidak ada lagi impor jagung sebagai bahan pakan ternak. Kasubdit Bahan Pakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Triastuti Andajani menyatakan, untuk mewujudkan target tersebut dilakukan penambahan luas areal penanaman jagung di lahan khusus 2 juta hektare dan melakukan kerjasama penyerapan dan pembelian hasil panen jagung oleh pabrik pakan.

Jagung untuk bahan pakan ternak merupakan komponen terbesar yang dibutuhkan oleh pabrik pakan skala besar, peternak ayam mandiri dan pabrik pakan skala kecil/menengah, termasuk pabrik pakan milik koperasi susu. “Dengan populasi unggas baik ayam pedaging, ayam petelur, ayam lokal dan itik yang semakin meningkat, maka kebutuhan jagung juga meningkat,” katanya, disalin dari Antara, pekan lalu.

Mengutip prediksi produksi pakan GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak) tahun 2017 sebesar 18,5 juta ton, menurut Triastuti sehingga dibutuhkan jagung 9,25 juta ton. Sedangkan kebutuhan jagung peternak mandiri sekitar 3,6 juta jika rata-rata 300 ribu ton per bulan.

Perkiraan kebutuhan jagung sebagai bahan pakan ternak pada tahun 2017 adalah 12,85 juta ton atau rata-rata 1,1 juta ton/bulan. Sementara itu pada September 2016 telah ditandatangani Nota Kesepahaman antara Menteri Pertanian Amran Sulaiman dengan GPMT yang ditindaklanjuti dengan penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara Kepala Dinas Pertanian 33 Provinsi dengan manajemen pabrik pakan setempat untuk penyerapan hasil panen jagung petani.

Pola kerjasama ini dimaksudkan agar ada kepastian produksi jagung petani dapat diserap oleh pabrik pakan dengan harga acuan pembelian yang telah ditetapkan sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 21 Tahun 2016.

Dampak dari kebijakan pengendalian impor dan program pengembangan jagung di lahan khusus, serta upaya lainnya yang dilakukan oleh Kementan tersebut menyebabkan impor jagung sebagai bahan pakan ternak turun menjadi 884.679 ton pada 2016 (hingga 31 Desember).

Penurunan impor tersebut, ujar Triastuti mencapai 68 persen dibandingkan dengan 5 tahun terakhir yang mana pada 2011 sebesar 3.076.375 ton; kemudian 2012 sebesar 1.537.512 ton; pada 2013 sebesar 2.955.840 ton; 2014 sebesar 3.164.061 ton dan 2015 sebesar 2.741.966 ton.


Beritahu teman


Berita lainnya

Apa komentarmu?

Email kamu tidak akan kami publikasikan.


*